Gunung Burangrang untuk "BH 276 P"

Berada 2.050 meter diatas permukaan laut (mdpl), parongpong- dikenal juga dengan gunung burangrang yang terliput kabut dan hutan pinus yang menjulang.

Kami bertujuh berangkat mengendarai bus explore sampai cimahi dengan ongkos Rp.10.000/orang disambung dengan angkot parongpong berwarna ungu dengan ongkos Rp. 6000/orang dan menyarter angkot kuning dari UNAI menuju Desa Cijanggel dengan ongkos Rp.5000/orang. Saya, Bang Kiting, Bang Gema, Bang Agung, Charla, Haga, ditemani Kang Daus sebagai pembimbing. Kami berangkat pada hari Jum’at, 3 November 2013. Sekitar pukul 2 siang bus bertolak dari kampus kami.

Sebelum menuju buragrang sebagai tujuan utama, rencananya ada beberapa tempat yang akan kami singgahi untuk sosialisasi penduduk. Pertama, rumah Pak RW, kedua, rumah kuncen gunung burangrang karena perjalanan kami ini bukan perjalanan biasa, yaitu pengembaraan. Kami semua adalah anggota muda Blue Hikers, Blue Hikers adalah salahsatu Unit Kegiatan Mahasiswa yang berfungsi sebagai wadah pengembangan keilmuan, penyaluran minat dan bakat, berkumpul untuk berkreatifitas, serta rasa cinta yang menghargai alam di fakultas kami, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Blue Hikers sendiri mempunyai 2 divisi, yaitu rock climbing dan hutan gunung, dan kebetulan saya memilih divisi hutan gunung, bukan karena saya jago navdar atau karena koordivnya ya (haha) tapi karena saya gak bisa panjat tebing kaya anak-anak rc, papan ukl aja cuma tembus 3 point, kan malu-maluin kalo masuk divisi rc -_- . Nah sebagai divisi hutan gunung, kami sepakat menjalani pengembaraan ke gunung burangrang dan sebagai mahasiswa FIB kami juga patut dan harus tau tentang asal-usul legenda gunung yang akan kami daki ini. Oya, pengembaraan ini adalah salah satu syarat agar kami mendapat nomor keanggotaan tetap, jadi do’akan kami ya supaya diberi kelancaraan sampai mendapat nomor anggota nanti, amin!

Kami sampai dirumah Pak Supriatna (RW) sekitar pukul 5 sore, tujuan kami mendatangi rumah beliau yaitu untuk mencari tahu seluk beluk gunung burangrang beserta masyarakat sekitar kaki gunung, tentunya tentang cekungan bandung dan legenda tangkuban perahu yang konon masih ada hubungannya dengan gunung burangrang , sharing ini berakhir ba’da magrib dilanjut dengan shalat berjamaah. Syukur alhamdulillah, selain itu kami juga mendapat tumpangan tidur untuk malam ini di rumah beliau, beliau juga bersedia mengantar kami ke rumah kuncen gunung  burangrang, Pak Oding.

Di rumah Pak Oding kami masih bertanya perihal yang sama tetapi bedanya beliau ini lebih condong menceritakan dirinya pribadi dengan hal-hal mistis yang pernah beliau alami semasa hidupnya, misal;beliau percaya ada kerajaan berwarna biru di gunung burangrang yang dikuasai oleh Dewi Endah Saketik yang turunannya itu Dayang Sumbi beserta Sangkuriang, dan masih banyak hal-hal mistis lainnya.

Pukul sembilan malam sepulang dari rumah pak Oding kami bergegas kembali ke rumah pak RW,  semua sepakat saat sampai di rumah pak RW dankipur mengerjakan jobdesknya yaitu memasak, karena sejak tadi siang perut kami hanya terisi gorengan yang di hidangkan Bu RW saat menjamu kami sebelum pergi ke rumah Pak Oding. Saat kami sampai rumah Pak RW ternyata Bu RW sudah menghidangkan nasi panas, kerupuk, sayur tahu toge, sambal, dan juaranya yaitu asin jambal roti, waaaaah, saya tidak henti-hentinya mengucap syukur di dalam hati, semoga kebaikan beliau dan keluarga dibalas oleh Allah SWT.
Selain itu saya mendapat banyak pelajaran dari apa yang beliau sampaikan, ternyata selain menjadi ketua RW yang sudah menjabat selama 12 tahun beliau juga adalah seorang guru honorer sekolah dasar di daerah setempat, waktu senggang setelah beliau selesai mengajar dimanfaatkan unuk berkebun dan mengurus sapi-sapi ternaknya dan menjual susunya ke koperasi, beliau juga menceritakan tentang pengalamannya yang hampir lolos menjadi kepala sekolah SD dan telah masuk 30 besar, namun karena terhalang dengan titel bukan sarjana beliau gagal menjadi kepala sekolah, padahal hasil tes beliau sudah mengalahkan berpuluh-puluh orang yang bertitel sarjana,  “sarjana ayeunamah lain ku hayang-hayang teuing jadi sarjana neng, tapi salah sahiji bentuk peraturan pemerinta, padahalmah lulusan sarjana ge teu sakedik nu janten pengangguran ” , katanya .

Sebelum tidur kami briefing dan evaluasi, tak lupa memisahkan mop jatah makan malam kami untuk diberikan kepada keluarga pak RW, saya tidur di kamar dengan Charla, sedangkan yang lainnya tidur diruang tengah, pukul 10 malam kami istirahat tidur dan bangun pukul 5 subuh untuk sholat subuh, mandi dan packing.

Keesokan harinya sebelum berangkat, kami berfoto terlebih dahulu dengan Pak RW, tak lupa kami mengucapkan banyak terimakasih kepada beliau sekeluarga juga memberikan sedikit bekal makanan kami kepada beliau, lalu kami pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Perjalanan menuju burangrang dimulai, mulanya dari Desa Cijanggel kami berjalan sekitar 100 meter menuju pemukiman yang dikelilingi oleh ladang dan perkebunan milik warga, indah dan asri sekali! Ya walaupun napas saya sudah hah heh hoh karena jalan yang kami lewati terus menanjak. Tak lama dari situ kami menemukan titik dimana kami bisa melihat bukit nyampai yang konon katanya bukit nyampai adalah bukti nyata adanya legenda sangkuriang, bukit nyapai ini adalah tambakan danau yang dibuat sangkuriang sebagai syarat mempersunting Dayang Sumbi. Di tempat ini menjadi titik koordinat pertama kali untuk orientasi medan dan orientasi peta. Tak jauh dari titik tersebut kami menuju sebuah warung untuk menitipkan carrier dan daypack kami, karena kami akan menuju titik koordinat berikutnya yaitu perbukitan sebelum pos hutan, di titik tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan navigasi darat, karena informasi yang kurang jelas dan ada beberapa diantara kami yang masih kebingungan atau mungkin lupa bagaimana teknik navigasi darat hehe.

Setelah menentukan titik tersebut, Haga, Bang Gema, dan Bang Kiting menuju pos perhutani untuk mencari informasi perizinan masuk wilayah gunung, karena saat diperjalanan tadi kami mendapat informasi sedang ada latihan tembak kopassus, kan serem juga kalau seandainya kena peluru nyasar L . Nah sisanya, kami berepat, saya, Kang Daus, Charla dan Bang Agung bersiap menuju warung untuk masak dan sarapan. Menu makan kali ini yaitu sayur sop telor puyuh, gehu ibu warung dan makaroni. Gak lama kemudian, Haga, Bang Gema, dan Bang Kiting datang, alhamdulillah kami dibolehkan mendaki.

Sekitar pukul 11 kami berpamitan dan berterimakasih kepada ibu warung, lalu kami melanjutkan perjalanan. Nah yang bikin saya heran tadi kan Haga, Bang Gema, dan Bang Kiting dapet informasi dari pos perhutani kalau dibolehin mendaki, tapi kok kita malah gak lewat pos perhutani ya, ini malah lewat bukit-bukit yang menurut saya cukup terjal (gak tau sih kalo kata yang lain), kan aneh juga. Oh ternyata kalau lewat pos perhutani kami harus bayar Rp.10000/orang, ya itung-itung ngirit lah dompet mahasiswa, jadi kami potong jalan deh, gini nih enaknya daki sama anak-anak PA, ada aja akalnya hehe :D

Sebelum pendakian dimulai kami melewati bukit-bukit kecil, di tempat ini kami bisa melihat hamparan Kota Bandung nan elok, keren deh! Setelah itu kami disambut oleh rangkaian pohon pinus yang berjajar rapi. Mereka pun setia mengiringi langkah kami menyusuri jalan setapak yang landai dan berdebu. Ditempat ini juga kami mendengar peluru-peluru yang ditembakan oleh para kopassus yang sedang berlatih, rasanya kayak di pelem-pelem deh hehe J. Setelah sekitar satu jam menikmati rangkaian hutan pinus, kami pun memasuki hutan alam dengan trek yang mulai menanjak, berliku, dan berbatu. Dari titik inilah perjalanan mulai menantang dengan jalan naik turun bukit. Bahkan kami juga akan melewati jalan setapak dengan jurang di sisi kanan dan kiri.
Setelah hampir dua jam perjalanan, tenaga saya mulai habis, berbeda dengan saudara-saudari saya yang lain, walaupun mereka membawa carrier tapi kenapa ya kelihatannya fun-fun aja? gak ada sama sekali wajah-wajah capeknya. Apa karena saya kelebihan berat badan ya? L.  Pokoknya mood saya udah turun banget lah, sampe gamau kalaupun disuruh senyum, tapi ya karena tingkah laku sodara-sodara yang konyol dan bikin ngakak, akhirnya mood kembali naik.
Bang Kiting sebagai leader dan Kang Daus sebagai pembimbing setia menunggu saya dibelakang, padahal saya sudah beberapa kali berhenti karena rasanya capek banget! Udah pengen nangis lah, tapi ya saya tahan lah, gengsi sama syal hehe. Bang kiting juga udah nawarin bahkan sempet maksa biar daypack saya dia yang bawa, tapi saya keukeuh gak mau, pokoknya kalo daypack saya dibawain orang saya gamau jalan (egois banget ya! Udah lambat, dibawain daypacknya gamau, haha) ya mau gimana lagi, karna dari awal pendakian prinsip saya gamau nyusahin orang kaya pra lapangan dulu, tepatnya saya ingin tau sih sebenernya kemampuan saya segimana, gak ada salahnya kan? Paling dibahas pas evaluasi hehe. Tapi kadang pas trek nanjak saya masih harus ditarik sama Bang Kiting juga sih, syukron Bang J  
Tepat di puncakan 2002 mdpl, kami bisa melihat pemandangan situ lembang dan hutan pinus dari ketinggian, edan banget lah pemandangannya! Ditempat ini juga kami menentukan titik koordinat kedua, tepatnya resection dimana kami bisa melihat jelas pemandangan situ lembang, gak lupa foto-foto dan istirahat sejenak, saya sudah bawel aja daritadi nanya-nanya Charla kapan sampainya? Berapa jam lagi? Bilangnya sih setengah jam lagi eh taunya masih jauh juga soalnya kita belum lewat turunan dan altar burangrang, kena kibul deh -_-
Setelah itu kami istirahat di altar dan ngobrol-ngobrol gak jelas, dari mulai ngobrolin artis luar lah, video senonoh anak SMP Jakarta lah, sampe gosip kalo dulu Haga pernah di-DO (gatau bener apa enggaknya haha), lalu kami melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya kami sampai tempat camp sekitar pukul 3 sore, sebenernya puncak utama deket banget sih dari tempat camp, tapi kami memutuskan summit attack besok pagi karena belum pasang tenda, flysheet, dan navigasi darat di titik terakhir.
Saat kami navigasi di titik terakhir ada suara lengkingan “stepuuuu stepuuu......” (dan sampe sekarang gak ngerti apa itu artinya), gak lama kemudian tim hore dan pembimbingan lapangan kami datang. Ada Bang Kumar, Angkel Ade, Kang Agung, A Ali, Kang Hilmi dan Kang Husni, rencananya Kang Boil sama Kang Sutan mau nyusul pake sepeda dari Jatinangor sampe pos hutan (gempor-gepor tuh kaki kaaaaaang -_-).
Setelah semua selesai, saya dan Charla masak untuk makan sore dan saudara saya yang lain mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.
Oh ya, pemandangan diatas sini pokoknya indaaaaaaah banget! Apalagi pas liat sunset, kebayarlah capeknya perjalanan sama semua ini, pokoknya gak henti-hentinya ucap syukur sama Allah yang udah ngasih kekuatan sampai akhirnya bisa sampe puncak, itung-itung tafakkur juga kan J
Nah malemnya kami sharing, evaluasi, makan-makan, ngopi, ngeteh, nyusu dan bakar sosis di api unggun, sebenernya gak cocok sih kalo dibilang api unggun soalnya apinya gak begitu besar dan alhasil pada hipotermi deh hehe, tapi hiponya gak lebay sih, paling baru stadium satu, wa lakin syukron jiddan Kang Hilmi udah buatin api nya J
Saking dinginnya saya sama Charla udah gak kuat lagi nih pengen masuk tenda, jadi kita berdua pamit bobo duluan sama yang lain. Gileeeee!! Gak sekali-kali lagi deh camp di puncakan begini, anginnya nusuk tulang banget breeeeh! Udah pake jaket tebel, kaos kaki, sleeping bag, semuanya gak ngaruh! Padahal satu tenda yang harusnya ber-4 udah kita padet-padetin jadi ber-6 tapi dinginnya masih aja, keterlaluan banget sih L
Paginya kami bangun jam 5 lebih, terus sholat subuh, abis itu jam setengan 6 pas summit attack deeeeeh! Yeyyeyeyyeye J. Wah, ternyata ada banyak pendaki yang camp di puncak sana, jadi aja foto-fotonya gabisa bebas sebebas-bebasnya! yaaaaaah L, tapi gapapa deh bisa summit attack juga alhamdulillah banget.
Abis foto-foto diatas kami turun menuju tempat camp dan masak-masak buat makan pagi, dilanjut packing dan beresin tenda, gak lupa foto-foto lagi haha :D
Sekitar pukul 10 pagi kami turun, tapi saya ada sedikit kendala nih sama jempol kaki, jadi si kukunya itu nancleb ke daging, rasanya sakiiiiiit banget, jadi turunnya lambat deh kaya siput, tapi di altar saya ganti sepatu pake sendal gunungnya Charla, alhasil bisa lari deh turunnya kaya saudara-saudara yang lain, makasih banyak ya caaaaaal {}
Alhamdulillah, kami sampai pintu hutan  pukul 12, kami istirahat dan ngemil-ngemil dulu sekitar setengah jam, setelah itu kami melewati pintu angin, di tempat ini banyak pohon kayu putih loh, daunnya kalo diremas-remas wangi minyak kayu putih (makasih Kang Husni buat ilmunya), setelah lewat pintu angin kami lewat lembahan dan ladang pertanian warga. Oya, sebelum melewati ladang, kami bersih-bersih dulu di sumber air, ada yang gosok gigi, cuci muka, dll.
Nah, akhirnya sampai perkampungan warga dan desa Cijanggel, saya dan Charla langsung pergi ke masjid buat ganti baju, soalnya baju yang tadi udah gak puguh rupa lah, yah kotor, yah bau, gak banget lah pokoknya. Kalo Charla sih sempet mandi, tapi aku engga sempet soalnya gaenak takut kelamaan hehe, jadi pas Charla mandi aku Sholat Dzuhur sama Ashar di jamak.
Abis sholat kami semua turun ke pos komando, terus si A Ali dengan jurus jitunya yang entah gimana saya juga gak ngerti, dia bisa dapet angkot carteran dengan bayaran goceng doang sampe depan cimol, edan-edanan banget tuh pasti nawarnya haha, btw btw nuhun ya tan! J  Pas kita nyampe cimol kebetulan banget bus explore nya belum jalan, tapi udah lumayan penuh sih, jadi aja cowo-cowonya hampir semua berdiri, wkwk, sabar yaw! . Kami sampai Kampus sekitar pukul 4, dilanjut masak sisa bekal makanan yang gak sempet kemasak, maghribnya saya pulang deh kerumah. Ini dia ceritaku, apa ceritamu?? J

Alhamdulillah senin kemarin saya sudah mendapat nomor anggota “BH 276 P”, syukron Allah dan semua saudara-saudari yang telah membantu saya

Read Users' Comments (0)

0 Response to "Gunung Burangrang untuk "BH 276 P""

Posting Komentar